Apakah benar bahwa demonstrasi itu tidak islami?

Posting ini adalah terjemahan dari tulisan Professor Tariq Ramadan yang dimuat di situs: http://tariqramadan.com/english/2014/07/27/demonstrations-are-anti-islamic/

Saya menerima banyak pesan dengan pertanyaan yang kurang lebih sama: “Apakah melakukan demonstrasi itu islami?” Awalnya saya berpikir pertanyaan semacam itu sudah ketinggalan zaman. Namun rupanya tidak seperti yang saya pikirkan, karena ada beberapa orang yang mengaku ulama namun pendapatnya membingungkan.

Beberapa meminta saya untuk menunjukkan ayat dan hadits yang membuktikan diperbolehkannya demonstrasi dalam Islam. Sebenarnya bukti yang jelas justeru terletak pada mereka yang melarangnya. Di dalam Islam, status hukum segala urusan sosial (muamalat) pada prinsipnya adalah diperbolehkan. Oleh karena itu menjadi kewajiban bagi mereka yang berpendapat bahwa demonstrasi itu dilarang untuk menghadirkan ayat atau hadits yang melarangnya. Dan rupanya ayat atau hadist tersebut memang tidak ada.

Beberapa “ulama penguasa” dari Arab Saudi hingga Mesir (yang memang secara historis mereka hidup dalam sistem politik yang lalim) mengeluarkan fatwa — dengan interpretasi yang masih diragukan serta mengandung bias kepentingan — yang menyatakan bahwa para pemimpin (siapapun mereka) harus ditaati dan oleh karenanya protes/demonstrasi terhadap mereka itu dilarang. Karena mengabdi pada kekuasaan yang lalim (despotik) serta diangkat dan digaji oleh penguasa, para “ulama” ini mengeluarkan pendapat yang dirancang demi kepentingan politik. Yang seperti ini bukanlah fatwa Islami yang dihasilkan oleh para ulama, namun fatwa politis oleh para abdi istana.

Apa yang dikatakan oleh Nabi SAW cukup jelas: “Jihad terbaik adalah mengungkapkan kebenaran di hadapan tiran, penguasa lalim.” Inilah yang dilakukan oleh mereka yang melakukan demonstrasi di jalan-jalan. Mereka menyuarakan kebenaran di manapun mereka berada dan di manapun mereka mampu melakukannya. Ini adalah tindakan yang mulia, terkadang sangat berani karena risiko yang harus dihadapi, dan tindakan yang demikian itu tidak jarang lebih bersifat kewajiban ketimbang hak.

Satu hal lagi yang perlu diingat yaitu kisah tentang Nabi Musa dan Harun AS ketika mereka berbicara di hadapan Firaun: “Katakan padanya kata-kata yang lembut, mudah-mudahan ia akan sadar atau takut.” Ada sebuah cara menyampaikan pendapat yaitu dengan ketegasan dan kelembutan, dengan keberanian dan tanpa kekerasan. Kelembutan dan tanpa-kekerasan adalah sebuah keberanian yang sejati: tidak ada penghinaan, tidak ada perusakan, tidak ada rasisme. Orasi yang bermartabat dan memberikan pengaruh kuat yang disampaikan oleh laki-laki maupun wanita yang menghormati diri mereka maupun perjuangan mereka. Sementara itu, mereka yang melakukan perusakan atau meneriakkan slogan rasis, mereka sesungguhnya hanya melampiaskan keputusasaan mereka dan bukan membela apa yang mereka perjuangkan. Bisa jadi mereka dimanipulasi atau menyusup untuk merusak perjuangan.

Kita tidak boleh naif ketika mengorganisir acara. Sangat penting untuk mengerahkan segala upaya agar suara kita didengar dan jangan sampai dimanfaatkan atau dieksploitasi. Ini adalah prasyarat sekaligus tanggung jawab. Yang penting, kita tidak boleh diam. Dalam segala situasi, kita perlu tetap bijaksana dan berani. Sederhananya, bijaksana dan berani.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s