Salman al-Farisi, kisah perjalanan panjang seorang pemuda yang gigih dalam mencari kebenaran

duneSalman al Farisi adalah satu diantara para sahabat Nabi yang kisah perjalan hidupnya penuh dengan pelajaran mulia khususnya bagi generasi muda Islam. Berikut ini adalah kisah hidupnya yang diceritakan sendiri olehnya kepada sahabat Abdullah ibnu Abbas RA seperti tercantum dalam Musnad Ahmad hadits nomor 23737.

Ibnu Abbas berkata: “Salman al-Farisi menceritakan cerita ini dari mulutnya sendiri”.

Salman berkata: Aku adalah orang Persia dari kaum Isfahan (di Iran) di kota kecil yang dikenal dengan sebutan Jayi. Ayahku adalah seorang pemuka kaumnya. Di mata ayahku, aku adalah makhluk Allah yang paling dicintainya. Begitu cintanya ia kepadaku sehingga ia takut kehilangan diriku atau khawatir sesuatu terjadi padaku. Maka ia mengurungku di rumah, seperti seorang tahanan, mirip seperti anak gadis yang dipingit.

Aku menjadi pengikut agama Majusi yang taat sehingga aku dipercaya untuk menjadi penjaga api yang menjadi sesembahan kami. Tugasku adalah menjaga api tersebut agar tetap menyala jangan sampai padam walaupun hanya sesaat baik siang maupun malam.

Ayahku memiliki sebuah lahan pertanian yang luas. Suatu hari ketika ayahku sedang sibuk dengan pekerjaan bangunan, ia menyuruhku untuk meninjau lahan pertanian tersebut dan membawakan untuknya sesuatu dari tempat tersebut. Dalam perjalananku ke lahan pertanian tersebut, aku melewati sebah gereja Nasrani. Aku mendengarkan suara orang-orang yang berdoa di didalamnya.

Sebelum itu aku tidak banyak tahu tentang kehidupan di luar karena ayahku selalu mengurungku di dalam rumahnya. Maka ketika aku melewati orang-orang (yang beribadah di gereja) tersebut dan mendengarkan mereka berdoa, maka aku masuk ke dalamnya untuk melihat apa yang sedang mereka lakukan.

Ketika aku melihat mereka, aku suka dengan doa-doa yang mereka lantunkan dan menjadi tertarik dengan urusan (agama) mereka . Aku berkata pada diriku sendiri : Demi Allah, agama ini lebih baik dari agama kaumku (agama Majusi).

Aku pergi tanpa mengunjungi lahan pertanian milik ayahku. Aku bertanya (kepada orang-orang gereja tersebut): “Dari manakah asal-muasal agama ini?” Mereka pun menjawab: “Dari Syam”. Aku kembali kepada ayahku yang (rupanya) merasa khawatir dan telah mengirimkan (seseorang) untuk mencariku. Saat aku sampai di rumah ia berkata “Anakku, dari manakah kamu? Bukankah aku mempercayakan kepadamu dengan sebuah tugas?” Aku menjawab: “Aku berjumpa dengan orang-orang yang beribadah di gereja dan aku suka dengan apa yang mereka kerjakan dengan agama mereka. Demi Allah aku duduk bersama mereka hingga matahari terbenam.” Ayahku berkata: “Anakku, tak ada kebaikan dengan agama tersebut. Agama ayahmu dan nenek-moyangmu lebih baik.” Aku menjawab: “Tidak, demi Allah, (agama) ini lebih baik dari agama kita”. (Lalu) ia marah dan khawatir akan diriku maka ia merantai kakiku dan mengurungku di dalam rumahnya.

Aku mengirimkan pesan kepada kaum Nasrani tersebut untuk meminta mereka memberitahukan kepadaku jika ada kafilah dagang orang-orang Nasrani dari Syam yang datang. Ketika kafilah dagang yang dimaksud datang, mereka (orang-orang Nasrani) memberitahukannya kepadaku. Aku katakan pada mereka agar aku diberitahu jika kafilah dagang tersebut telah menyelesaikan urusan dagang mereka sebelum kembali ke negeri mereka. Aku (sungguh) diberitahu oleh mereka ketika (kafilah dagang tersebut) menyelesaikan urusan dagang mereka dan ketika hendak kembali ke negeri mereka. Aku (berhasil) melepaskan rantai yang membelenggu kakiku dan pergi bersama kafilah tersebut hingga tiba di Syam.

Sesampainya di sana (Syam), aku bertanya “Siapakah yang terbaik diantara umat agamamu ini”. Mereka berkata: “Sang uskup yang ada di gereja”. Aku datang padanya dan berkata: “Aku suka agama ini dan aku sangat ingin untuk melayanimu di dalam gereka untuk belajar darimu dan untuk beribadah bersamamu”. Ia menjawab, “Baiklah, kamu bisa menemuiku”. Maka akupun bergabung bersamanya.

Setelah beberapa lama, aku tahu beberapa hal tentang uskup ini. (Ternyata) ia bukan orang yang baik yang menyuruh dan mendorong kaumnya untuk membayar sedekah hanya untuk memperkaya dirinya sendiri. Ia tidak memberikan sedekah yang dikumpulkan tersebut kepada orang-orang miskin. Ia menyimpannya dalam tujuh peti berisi emas dan perak! Aku benci sekali kepadanya karena melihat apa yang ia lakukan.

Uskup tersebut kemudian meninggal. Kaum Nasrani berkumpul untuk memakamkannya. Aku katakan pada mereka: “Ia bukanlah orang yang baik karena ia menyuruh dan mendorong kalian untuk bersedekah yang ternyata hanya untuk dirinya dan tidak membagikannya untuk orang-orang miskin.” Mereka pun berkata “Bagaimana engkau tahu tentang hal tersebut?”. Aku menjawab “Aku bisa menunjukkan pada kalian kekayaan yang dimilikinya”. Mereka berkata “Tunjukkanlah pada kami”. (Lalu) aku menunjukkan pada mereka tempat yang dimaksud dan mereka menemukan tujuh peti yang berisi emas dan perak. Ketika mereka melihat semua itu mereka berkata “Demi Allah, kita tak akan menguburnya”. Mereka lalu menyalib dan melempari jasad uskup tersebut dengan batu.

Mereka memilih pengganti uskup tersebut. Salman berkata: Aku tak pernah melihat seseorang yang tidak sholat lima waktu (maksudnya orang bukan muslim) lebih baik dari dirinya, dan tidak ada seorangpun yang melepaskan kehidupan duniawi lebih dari dirinya. Tidak juga orang yang bersungguh-sungguh yang bekerja siang dan malam lebih keras dari dirinya. Aku mencintainya lebih dari apapapun yang pernah aku cintai sebelumnya.

Aku tinggal bersamanya sampai beberapa lama sebelum akhirnya ia meninggal . Sebelum ia meninggal aku berkata padanya “wahai Fulan, aku tinggal bersamamu dan mencintaimu lebih dari apapun yang pernah aku cintai sebelumnya. Sekarang engkau mendekati takdir Allah (yaitu kematian), maka siapakah yang akan engkau sarankan padaku dan maukah engkau menyuruhku (padanya)?”. Sang uskup menjawab: “Demi Allah, sesungguhnya aku tidak tahu seorang pun saat ini yang bisa engkau temui, sesungguhnya orang-orang berada dalam kerugian yang nyata, mereka mengubah dan meninggalkan apa-apa yang telah ada pada mereka, kecuali seorang yang tinggal di Mosul (nama sebuah tempat di Irak), namanya Fulan, yang bisa engkau temui maka maka jumpailah ia.”

Ketika ia (uskup) tersebut meninggal, aku pergi menuju Mosul dan menemui sahabat yang dimaksud. Aku berkata kepada orang tersebut: “Wahai Fulan, sesungguhnya Fulan (uskup yg telah meninggal) mewasiatkan kepadaku sebelum ia mati agar menemuimu. Dia juga mengatakan kepadaku bahwa kamu memegang teguh agama yang sama dengannya.” Orang Mosul tersebut memintaku agar tinggal bersamanya. Aku tinggal bersamanya dan aku menemukan bahwa ia adalah orang terbaik yang memegang teguh urusan (agama) temannya.

Beberapa waktu kemudian ia meninggal. Ketika kematian mendatanginya aku berkata padanya : “Wahai Fulan, sesungguhnya Fulan (uskup sebelumnya) mewasiatkanku agar menemuimu, maka berikanlah aku saran untuk menemui orang yang seagama denganmu” . Orang tersebut berkata “Demi Allah, aku tak tahu seseorangpun yang memiliki hal (keyakinan) yang sama dengan kita, kecuali seorang yang yang tinggal di Nasibin (nama sebuah kota d Aljazair) namanya Fulan maka temuiah ia”.

Setelah orang tersebut meninggal, aku pergi menuju orang di Nasibin. Aku menemui orang tersebut dan tinggal bersamanya selama beberapa waktu. Cerita yang sama berulang. Orang tersebut mendekati kematiannya, dan sebelum ia mati aku datang pada orang tersebut dan memintanya unuk menujukkan padanya seseorang yang ia bisa temui. Orang tersebut menyarankan aku untuk ikut seseorang yang memiliki agama yang sama yang tinggal di Amuriya (sebuah kota di dalam wilayah Romawi saat itu).

Aku pergi ke kota Amuriya setelah orang tersebut meninggal. Ia menemukan rujukan baru dan bergabung bersamanya. Aku bekerja dan mendapatkan beberapa ekor sapi dan seekor kambing.

Lalu kematian mendekati orang Amuriyah tersebut. Aku mengulang kembali permintaannya. Namun kali ini jawabannya berbeda. Orang tersebut berkata: “Wahai anakku, aku tidak mengetahui seorangpun yang memiliki agama yang sama dengan kita. Akan tetapi akan muncul seorang Nabi di jamanmu ini. Nabi ini memiliki agama yang sama dengan Ibrahim.”

Orang tersebut menjelaskan tentang Nabi yang dimaksud. “Ia diutus membawa agama yang sama dengan agama Ibrahim. Ia adatang dari tanah Arab dan berhijrah menuju sebuah tempat diantara dua batu hitam (seperti seolah-olah terbakar). Pohon kurma tersebar diantara dua tanah tersebut. Ia memiliki ciri-ciri tertentu yang dikenal. Ia menerima dan memakan hadiah makanan dan ia tidak memakan sesuatu dari sedekah. Tanda kenabiannya ada diantara dua bahunya. Jika kamu dapat pergi ke tempat itu maka pergilah ke sana.”

Orang (Amuriya) tersebut akhirnya meninggal. Aku tinggal di Amuriya hingga suatu hari beberapa pedagang dari suku Kalb lewat. Aku berkata pada mereka, “Bawa aku ke Arab dan aku akan memberimu sapi-sapi dan seekor kambing yang aku miliki.” Mereka menjawab “Baiklah” . Aku lalu memberikan apa yang ia janjikan dan mereka pun membawaku.

Ketika mereka membawaku sampai di Wadi Qura (di dekat Madinah) mereka menjualku sebagai budak kepada kepada seorang Yahudi. Maka aku pun hidup dengan Yahudi tersebut. Aku melihat pohon-pohon kurma . Aku berkata: “Aku berharap tempat ini adalah tempat seperti yang dimaksud oleh sahabatku (ahli agama Nasrani yang telah meninggal)”. Saudara sepupu dari tuanku yang berasal dari suku Yahudi Bani Quraidah di Madinah mengungjunginya suatu hari. Ia membeliku dari orang Yahudi tuanku tersebut. Ia membawaku ke Madinah. Demi Allah, ketika aku meihatnya (Madinah) aku langsung mengetahuinya berdasar dari apa yang pernah diceritakan sahabatku.

Lalu Allah mengirim Rasulnya (Muhammad SAW). Ia tinggal di Makkah selama beberapa waktu, aku tidak mendengar sesuatu tentangnya karena aku sangat sibuk dengan pekerjaanku sebagai budak. Ia (Rasullah SAW) lalu berhijrah ke Madinah.

Aku (suatu hari) berada di pohon kurma di puncak salah satu kumpulan pohon kurma untuk mengerjakan tugas dari tuanku. Saudara sepupu tuanku datang dan berdiri di depannya (sang tuan saat itu sedang duduk) dan berkata: “Celakalah bani Qailah, mereka berkumpul di Quba mengerumuni seorang yang datang hari ini dari Makkah mengaku dirinya sebagai seorang nabi”.

Ketika aku mendengarnya, aku tertegun dan aku hampir jatuh menimpa tuanku. Aku turun dan berkata, “Apakah yang kau katakan? Apakah yang kau katakan?” Tuanku menjadi marah lalu memukulku dengan kuat lalu ia berkata, “Urusan apakah yang sedang kamu lakukan? Urusi tugasmu saja.” Aku berkata, “Tidak ada maksud apa-apa, aku hanya ingin memastikan tentang apa yang ia katakan. “

Sore itu aku lalu pergi menemui Rasulullah saat ia sedang berada di Quba. Aku membawa sesuatu yang aku simpan. Aku datang padanya dan mengatakan “Aku mendengar bahwa engkau adalah orang yang membawa kebenaran dan orang-orang yang bersamamu yang merupakan orang asing di sini sedang membutuhkan (batuan), maka aku ingin memberikan sesuatu yang aku simpan sebagai sedekah. Aku menganggap engkau yang paling berhak diantara orang lain. Aku menawarkan (sedekah tersebut) kepada beliau, (lalu) beliau berkata kepada para sahabatnya: “makanlah” sementara ia sendiri tidak memakannya. Aku berkata pada diriku sendiri, “Inilah (ciri kerasulan) yang pertama.” Lalu aku pergi dan mengumpulkan sesuatu yang lain.

Rasulullah lalu pindah ke Madinah. Lalu suatu hari aku menemui beliau dan berkata “Aku melihat kamu tidak memakan dari sedekah, inilah hadiah yang aku peruntukkan sebagai penghormatan kepadamu.” Nabi SAW makan darinya dan menyuruh para sahabat untuk melakukan hal yang sama seperti yang beliau lakukan. Aku berkata dalam hati: “Sekarang, ada dua (ciri kenabian)”.

Lalu aku menemui Rasulullah saat beliau berada di Baqi Gharqad, ketika ia menghadiri pemakaman salah satu sahabatnya dan ia mengenakan dua kain penutup dan sedang duduk diantara para sahabatnya.

Salman berkata: Aku memberikan salam padanya (dengan salam Islami) lalu aku berjalan ke arah belakang beliau untuk melihat tanda kerasulan sebagaimana yang dijelaskan oleh sahabatku. Ketika beliau melihatku melakukan hal tersebut beliau tahu bahwa aku sedang mencoba memastikan tanda-tanda yang dijelaskan padaku. Beliau lalu melepaskan kain yang menutupi punggung beliau lalu aku melihat tanda tersebut. Aku mengenalinya. Lalu aku mendekatinya dan menciumnya. Rasulullah menyuruhku untuk menuju ke depannya (untuk diajak berbicara). Aku katakan kepadanya tentang cerita sebagaimana yang aku ceritakan kepada engkau ya Ibnu Abbas.

Rasulullah SAW ingin agar ara sahabat mendengarkan cerita tentang Salman.

Waktu itu Salman (masih) disibukkan dengan tugasnya untuk melayani tuannya. Ia tidak bisa ikut dalam dua peperangan Badar dan Uhud.

Salman berkata: Rasulullah berkata kepadaku “Tuliskanlah wahai Salman (maksudnya tuliskan permintaanmu untuk merdeka kepada tuanmu)”. Aku mematuhi dan menuliskan permintaanya untuk merdeka kepada tuanku. Aku menyepakati dengan tuanku untuk memerdekakanku dengan membayar 40 uqiah emas dan untuk menanam pohon kurma hingga tumbuh besar sebanyak 300 pohon. Rasulullah berkata pada para sahabat: “Bantulah saudaramu”.

Mereka menolongku dengan membawa pohon dan mengumpulkannya untukku seluruh yang diminta. Rasulullah menyuruhku untuk membuat lubang untuk menanam pohon kurma, lalu ia (Rasulullah) menanam setiap pohon dengan tangannya sendiri. Aku berkata: “Demi yang memegang jiwaku, tak ada satupun pohon (yang ditanam) tersebut mati”. Maka Aku memberikan pohon-pohon tersebut kepada tuanku. Rasulullah memberiku sebongkah emas yang besarnya seukuran telur ayam dan berkata “Ambilah ini wahai Salman dan bayarlah tebusanmu padanya.” Aku berkata “Bagaimanakah ini bisa menutup hutang-hutangku?”. Rasulullah berkata “Ambillah, Allah akan membayar tebusan yang engkau butuhkan”. Aku mengambilnya dan menimbangnya dan itu 40 uqiyah. Aku lalu memberikan emas tersebut kepada tuanku. Ia memenuhi janjinya dan aku pun dibebaskan.

Sejak itu aku turut bersama Rasulullah dalam perang Khandaq, dan sejak itu tak ada satu peperangan bersama Rasulullah yang aku lewatkan.

Foto ilustrasi oleh: Jake Brewer

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s