Sayyid Sabiq, satu diantara ulama fiqih kontemporer terbesar dalam sejarah

Buku Fiqih Sunnah telah menjadi warisan besar bagi para ahli yang mendalami fikih kontemporer. Sementara bagi umat Islam yang awam, Fiqih Sunnah hadir sebagai sebuah buku fiqih yang sangat mudah dipahami oleh semua kalangan.  Bahkan pada era rejim komunis Uni Soviet, buku Fiqih Sunnah menjadi salah satu buku agama yang paling banyak dipelajari di berbagai pelosok daerah di wilayah Asia Tengah. Dan setiap kali kita menyebut kitab Fiqih Sunnah, tak pernah pernah lepas dari nama besar Sayyid Sabiq, sang penulisnya.

Sayyid Sabiq dilahirkan di desa Istanha yang terletak lembah sungai Nil, Mesir, pada tahun 1915. Kecerdasan dan bakat agamanya telah terlihat sejak kecil, bahkan pada umur 9 tahun ia telah berhasil mengafal seluruh isi Al-Quran.  Ia menyelsaiakan pendidikan tingginya di Universitas Al-Azhar.

Selain sebagai ahli fikih, Sayyid Sabiq juga memiliki peranan besar dalam dalam memompa moral para pejuang muslim yang berusaha melepaskan Palestina dari penjajahan Israel pada tahun 1948.  Peran yang sama ia lakukan pula pada saat kaum muslim berusaha membebaskan Terusan Suez dari kolonialisasi Inggris pada tahun 50-an.

Seperti banyak ulama besar Ikhwanul Muslimin yang lain, Sayyid Sabiq pun pernah mengenyam hidup di dalam penjara Mesir. Namun justeru di penjara itulah Sayyid Sabiq melanjutkan kerja dakwahnya. Ia seolah merubah penjara tersebut menjadi madrasah dimana ia menjadi gurunya dan para penghuni penjara yang lain menjadi murid setianya.

Di mata umat Sayyid Sabiq, juga terkenal sebagai ulama yang humoris. Pernah suatu saat ia diinterogasi oleh dinas intelijen Mesir. Dalam interogasi tersebut, ia ditanyai apakah ia mengenal seorang yang bernama Malik, yang dimaksud adalah serong yang diincar oleh Pemerintah Mesir waktu itu. Maka Sayyid Sabiq pun menjawab: ”Oh tentu. Ia adalah ulama besar dan imam masjid Madinah, tempat Rasulullah berhijrah.” Maka sang interogator pun dengan nada tinggi mengatakan ”Yang aku maksud adalah Malik sang teroris”. Maka Sayyid Sabiq-pun menjawab ”Aku adalah seorang pelajar ilmu keislaman, yang aku kenal adalah ulama bukan teroris”

Selama hidupnya ia aktif mengajar di berbagai perguruan tinggi Islam terkemuka, diantaranya Universitas Al-Azhar di Kairo dan Universitas Ummul Qura di Makkah. Sayyid Sabig meninggal di Mesir pada bulan Februari tahun 2000.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s