Apa kata mereka tentang Muhammad?

Tulisan ini menyajikan pendapat sejumlah tokoh sejarah tentang kekaguman mereka terhadap pribadi Rasulullah Muhammad SAW. Tokoh-tokoh tersebut ada yang berlatar belakang sebagai ahli sejarah, ilmuwan, penulis buku, pemimpin bangsa hingga pemimpin agama yang reputasinya diakui dunia. Perlu dicatat bahwa tidak ada seorangpun diantara tokoh-tokoh tersebut yang beragama Islam.

Dia adalah seorang Kaisar dan seorang Paus sekaligus. Akan tetapi dia seorang Paus yang tidak membutuhkan klaim sebagai seorang Paus, dia seorang Kaisar yang tidak membutuhkan tentara profesional sebagaimana yang dimiliki oleh seorang Kaisar, tanpa pasukan khusus, tanpa pengawal pribadi, tanpa istana, tanpa pemasukan uang tetap (upeti). Jika saja ada orang yang berhak untuk mengatakan bahwa ia memimpin berdasarkan kebenaran wahyu, maka ia adalah Muhammad, sebab ia punya semua kekuasaan tanpa butuh perangkat dan dukungan yang diperlukan. (Bosworth Smith, Mohammad and Mohammadanism, London, 1874, p. 92).

Kesediaannya untuk mengalami penderitaan demi keyakinannya, karakter moral orang-orang yang percaya padanya dan mereka yang menjadikannya sebagai pemimpin, serta kehebatan prestasinya yang luar biasa, kesemuanya membuktikan integritas mendasar yang dimilikinya. Menganggap Muhammad sebagai pembohong justeru menimbulkan masalah daripada penyelesaian. Lebih dari itu, tidak ada satupun tokoh besar sejarah yang mendapat apresiasi sedemikian buruk di (masyarakat) Barat seperti halnya Muhammad. (W. Montgomery Watt, Mohammad at Mecca, Oxford, 1953, p. 52)

Pilihan saya menjadikan Muhammad pada rangking tertingi tokoh yang paling berpengaruh di dunia barangkali mengejutkan sebagian pembaca dan mungkin dipertanyakan oleh sebagain yang lain, akan tetapi dialah satu-satunya orang yang pernah ada dalam sejarah yang paling berhasil baik dalam ukuran agama maupun ukuran sekuler. (Michael H. Hart, The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History, Hart Publishing Company, Inc. 1987, p. 33)

Kesuksesan terbesar dalam hidup Muhammad sepenuhnya muncul dari kekuatan moral. Bukanlah kemajuan agama Islam, namun sifat permanent agama tersebut yang menyebabkan kita takjub. Kesan yang sempurna dan murni terhadap pribadinya yang ia pahatkan di Mekah dan Madinah tetap terjaga sekalipun telah berlalu revolusi masuknya orang-orang India, Afrika dan Turki kepada Al Quran selama 12 abad. (Edward Gibbon and Simon Oakley in History of the Saracen Empire, London, 1870).

Saya ingin tahu kehidupan terbaik seseorang yang pesonanya tertanam di dalam sanubari jutaan orang saat ini. Saya menjadi yakin lebih dari yang pernah saya alami sebelumnya bahwa bukanlah pedang yang memenangkan Islam pada saat itu. Adalah kesederhanaan yang kuat, ekspresi kerendah-hatian dari sang Nabi, memegang teguh janji, dedikasinya yang tinggi pada para sahabat dan pengikutnya, keberaniannya, kepercayaanya yang tinggi terhadap Tuhan dan terhadap misinya. Inilah (yang menjadi kunci keberhasilan), dan bukannya karena pedang di depan mereka untuk mengatasi setiap rintangan. Ketika aku menutup volume kedua (dari Biografi sang Nabi), saya sedih tidak ada lagi yang bisa kubaca dari kehidupannya yang agung tersebut. (Mahatma Gandhi, dikutip dari harian Young India, 1924)

Saya selalu memandang agama Muhammad secara tinggi karena begitu hebat vitalistasnya. Inilah satu-satunya agama yang saya lihat memiliki kemampuan asimilasi terhadap fase perubahan eksistensi yang membuatnya menarik pada setiap jaman. Saya telah mempelajari dia (Muhammad), menurut saya ia adalah manusia yang menakjubkan, dan dalam pandangan saya sebagai seorang anti-Kristen, ia patut disebut sebagai Penyelamat Kemanusiaan. … Saya percaya bahwa kalaupun orang seperti dia memilih cara diktaktor menurut ukuran dunia modern, dia akan berhasil mengatasi berbagai permasalahan yang ada. Dalam pengertian ia akan menghadirkan kedamaian dan kebahagiaan. Saya telah memperkirakan bahwa kepercayaan Muhammad akan bisa diterima oleh Eropa di masa yang akan datang sebagaimana ia telah mulai diterima Eropa saat ini. (Sir George Bernard Shaw, The Genuine Islam, Vol. 1, No. 8, 1936)

Empat tahun setelah meninggalnya Justinian, lahirlah di Mekah, Arab, seorang laki-laki, yang telah membawa pengaruh terbesar bagi umat manusia … Menjadi seorang pemimpin agamis yang memimpin berbagai dinasti, membimbing kehidupan sehari-hari atas sepertiga umat manusia, barangkali ia patut mendapatkan gelar Utusan Tuhan. (Dr. William Draper in History of Intellectual Development of Europe, 1862)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s